Sabtu, 24 Agustus 2013

Pengalaman Selama di Kelas Aksel

Pada awalnya mungkin beberapa orang akan berfikir bahwa siswa yang memilih program akselerasi adalah siswa yg cukup nekad mengorbankan masa-masa indah selama bersekolah khususnya di Sekolah Menengah Atas (SMA). Tetapi pemikiran kebanyakan orang ini tidaklah sepenuhnya benar karena sesungguhnya menjadi anak aksel sangatlah menyenangkan, meskipun siswa akselerasi cendurung bersikap anti sosial pada lingkungan sekolahnya, hal ini bukanlah berarti anak aksel adalah anak yang "kuper" (kurang pergaulan) tetapi mereka lebih memilih untuk fokus kepada pelajaran di sekolah. Apalagi, siswa akselerasi di SMA haruslah mempersiapkan diri secara matang untuk memasuki perguruan tinggi. Awalnya mungkin para siswa akseerasi akan ragu akan pilihan mereka, namun akhirnya kebanyakan dari mereka akan menikmati program yang telah dipilihnya ini.

Saya pun juga salah satu siswi akselerasi di Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Kendari, dan sy akan sedikit berbagi pengalaman selama berada dikelas akselerasi meskipun faktanya sy masih duduk di kelas XI semester 2. Menjadi murid akselerasi adalah suatu tantangan tersendiri dari para siswanya apalagi seperti yang sy alami dimana penjaringan program kelas ini tidak dilakukan atas kemauan tersendiri. Pada awalnya teman sekelas sy rata-rata memilih keluar dari program ini tetapi, karena rumitnya pengurusan yang harus ditempuh untuk keluar jadi mereka lebih baik memutuskan untuk tetap tinggal sampai sekarang ini. Siswa di kelas sy hanya berjumlah 22 orang, dimana terdapat 8 siswi laki-laki dan 14 siswi perempuan. Kami pun tidak hanya diberi label kelas akselerasi namun kami juga dikenal dengan istilah kelas "CI (Cerdas Istimewa)." Penjaringan kelas kami ini dilakukan berdasarkan hasil tes IQ dan tes akademik. 

Kebanyakan pula siswa siswi kelas akselerasi tidak hanya dikenal dengan prestasi dalam bidang akademik namun juga kami dikenal karena keharmonisan antar siswa siswi satu sama lain mesipun siswa siswi kelas reguler menganggap kelas kami anti sosial namun, mereka tidak melihat apa yang terjadi di dalam kelas saat pbb maupun tidak. Tetapi dari semua kesenangan yang terdapat di kelas Akselerasi, ada beberapa kegiatan sekolah yang tidak dapat diikuti dengan baik oleh akselerasi seperti pada kegiatan porseni dan pelaksanaan upacara bendera merah putih. Porseni adalah salah satu kegiatan sekolah yang diadakan setiap semester 2 di SMAN 4 Kendari dimana terdapat beberapa cabang lomba seni dan lomba olahraga, nah disinilah letak kelemahan terbesar  kami dimana pada setiap cabang lomba rata-rata bersifat kelompok sehingga membutuhkan banyak personil sedangkan kelas kami sangatlah kurang personil terlebih kebanyakan dari kami menderita lemah fisik sehingga membuat kami tidak maksimal bahkan bisa dibilang buruk apabila ikut berpartisipasi dalam kegiatan porseni. Sama halnya pada upacara bendera, saat kami menjadi pelaksana kami juga terhalang karena kekurangan personil sehingga membuat kami tidak maksimal.

Tetapi, dibalik semua itu ada satu keuntungan bagi kami siswa kelas CI yaitu akan dipermudah dalam mengurus sekolah ke perguran tinggi. Kami memiliki peluang lebih besar untuk mendapakan jalur undangan atau tes yg dilakukan untuk siswa tertentu yg dilaksanakan sebelum SBNMPTN bedanya jalur undangan membuka peluang lebih besar untuk siswa yg beruntung yang bisa mengikutinya karena pintu memasuki perguruan tinggi lebih terbuka lebar karena siswa siswi yang dipilih untuk mengikuti tes ini adalah siswa siswi yang dianggap berprestasi di sekolah masing-masing dan juga kami diberikan peluang besar pula untuk mendapatkan beasiswa dari beberapa universitas ternama di Indonesia.

Jadi sebenarnya, menjadi siswa akselerasi tidaklah sesulit yang dibayangkan asalkan kita dapat menjalaninya dengan keikhlasan dan kemauan untuk bersungguh-sungguh dalam menempuh pendidikan yang terpaut lebih cepat. Mungkin itu saja beberapa pengalaman yang dapat saya berikan tentang kelas akselerasi. Terima Kasih


1 komentar: